26 Oktober 2009

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN APPENDICITIS



I.ANATOMI FISIOLOGI
Anatomi
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm, dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit dibagian proksimal dan melebar dibagian distal. Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.

fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir itu secara normal dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir dimuara apendiks tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Imunoglobin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh.

II.DEFINISI
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10-30 tahun.

III.ETIOLOGI
Apendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat :
1. Hiperplasia dari folikel limfoid
2. Adanya fekalit dalam lumen apendiks
3. keganasan seperti tumor apendiks, karsinoma
4. Adanya benda asing seperti cacing askariasis
5. Erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. Histilitica.
Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendiksitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional apendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.

IV.PATOFISIOLOGI
Obstruksi menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang di tandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneom setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini di sebut apendisitis supuratif akut.
Bila aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti gangren dan disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah maka terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses tersebut berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan itu ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

V.PENUNJANG
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan apendisitis akut, akan terjadi leukositosis pada kebanyakan kasus. Pemeriksaan urine juga perlu dilakukan untuk membedakan dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih. Pemeriksaan USG dilakukan bila telah terjadi infiltrat apendikularis.

VI.KOMPLIKASI
Komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7o C atau lebih tinggi, nyeri tekan abdomen yang kontinue.

VII.PENATALAKSANAAN
Pada apendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi apendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain diperut kanan bawah.
1.Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan
2.Tindakan operatif ; apendiktomi
3.Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.
VIII. PENGKAJIAN
Abdominal :
 Nyeri abdomen kuadran kanan bawah berat dan menetap
 Nyeri lepas di atas titik McBurney’s
 Peningkatan nyeri bila batuk
 Demam, mual, dan muntah
Sistem kardiovaskuler :
 Untuk mengetahui tanda-tanda vital,
 ada tidaknya distensi vena jugularis,
 pucat,
 edema, dan
 kelainan bunyi jantung.
Sistem hematologi :
 Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan,
 mimisan
 splenomegali.
Sistem urogenital :
 Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
Sistem muskuloskeletal :
 Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan,
 sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
Sistem kekebalan tubuh :
 Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
Pemeriksaan diagnostik :
 Jumlah leukosit diatas 10.000/mm¬3
 USG abdomen menunjukkan proses inflamasi

IX.Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah:
1.Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan pembatasan intake.
Tujuan : menunjukan keseimbangan cairan yang adekuat
Kriteria hasil :
o Turgor kulit baik
o Urine cukup
o Membrane mukosa lembab
o Pengisian kapiler baik
o Tanda-tanda vital normal
Intervensi :
o Pantau tanda – tanda vital
o Pertahankan intake dan output cairan.
o Awasi tanda peningkatan rangsang muntah
o Kolaborasi pemberian antiemetik
Rasionalisasi :
o Akan terjadi peningkatan nadi, respirasi dan suhu bila terjadi dehidrasi.
o Mempertahankan volume sirkulasi
o Mencegah muntah


2.Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peritonitis sekunder terhadap apendiks perforasi.
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi
Kriteria hasil : tidak ada manifestasi peritonitis
Intervensi :
o Monitor setiap jam tanda vital, bising usus, ukuran abdomen dan kualitas nyeri. Pertahankan puasa, berikan terapi IV sesuai program. Siapkan pasien pada pembedahan sesuai pesanan.
o Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler.
o Jelaskan bahwa obat nyeri tidak dapat diberikan sampai penyebab nyeri telah teridentifikasi.
Rasionalisasi
o Untuk mendeteksi perforasi
o Untuk pengosongan lambung untuk mencegah aspirasi saat pembiasan, mencegah makanan keluar ke ruang intra abdomen bila terjadi perforasi usus.
o Untuk mengurangi tegangan pada otot abdominal.
o Obat nyeri menutupi gejala, khususnya bila apendiks ruptur.

3.Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan appendik/luka pembedahan (post op)
Tujuan : gangguan rasa nyaman nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil :
o nyeri berkurang
o tanda – tanda vital normal
o pasien tanpak tenang dan rileks
intervensi :
o pantau tanda-tanda vital dan ukur intensitas nyeri pasien.
o Anjurkan klien bedres di tempat tidur
o Atur posisi senyaman mungkin
o Ajarkan tehnik relaksasi dan nafas dalam
o Kolaborasi pemberian terafi medic
Rasionalisasi :
o Nyeri berpengaruh terhadap tanda-tanda vital klien, untuk mengatasi nyeri klien harus diketahui persepsi klien atas nyeri yang dialaminya.
o Aktivitas dapat menyebabkan terjadinya pergeseran organ intra abdomen sehingga terjadi penekanan terhadap appendik yg dapat menambah hebat nyeri yg dialami pasien.Istirahat diharapkan dapat mengurangi penekanan itu.
o Posisi yg tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot sehingga dapat mengurangi nyeri.
o Relaksasi mengurangi ketegangan otot dan mental sehingga perasaan lebih nyaman.
o Pemberian analgetik dapat dipertimbangkan untuk nyeri pasien.
4.Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi
Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
 Kriteria hasil :
o Pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
o Pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur.
o Kualitas dan kuantitas tidur normal
Intervensi :
o Anjurkan latihan pada siang hari dan kurangi aktivitas pada sore hari
o Evaluasi tingkat stress
o Buat jadwal tetap waktu tidur yg disepakati
o Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan massage punggung.
Rasionalisasi :
o Mengurangi kelelahan berlebihan yg dapat mengganggu pola tidur
o Stress dapat mengganggu tidur
o Kebiasaan tidur terjadwal dapat meningkatkan kualitas tidur.
o Untuk meningkatkan relaksasi dan perasaan mengantuk.

untuk download abah zahra

Tidak ada komentar: